Mengkonfigurasi HTML/JavaScript

Kamis, 29 Juli 2010

Prinsip Kerja TV

1. DIAGRAM BLOK PENERIMA TV

Gambar 1. Diagram Blok Penerima TV Hitam Putih

diagram blok tv

Gambar 2. Diagram Blok Penerima TV Berwarna

diagram blok penerima Prinsip Kerja Televisi

Sebelum kita mempelajari prinsip kerja penerima TV, ada baiknya mengetahui sedikit tentang perjalanan objek gambar yang biasa kita lihat dilayar TV. Gambar yang kita lihat adalah hasil produksi dari sebuah kamera. Objek gambar yang ditangkap lensa kamera akan dipisahkan menjadi 3 warna primer yaitu merah (Red), hijau (Green) dan biru (Blue). Hasil tersebut akan dipancarkan oleh pemancar TV(Transmitter) berupa sinyal cromynance, sinyal luminance dan syncronisasi.

Selain gambar, pemancar televisi juga membawa sinyal suara yang ditransmisikan bersama sinyal gambar. Gambar dipancarkan dengan system amplitudo modulasi (AM), sedangkan suara dengan system frekuensi modulasi (FM). Kedua system ini digunakan untuk menghindari derau (noise) dan interferensi.

distribusi sinyal tv1 Prinsip Kerja Televisi

Gambar 3. Distribusi Objek Ke Televisi

2. SALURAN DAN STANDAR PEMANCAR TV

Kelompok frekuensi yang ditetapkan untuk transmisi sinyal disebut saluran (channel). Masing-masing mempunyai sebuah saluran 6 MHz dalam salah satu bidang frekuensi (band) yang dialokasikan untuk penyiaran TV komersial yaitu:

a) VHF bidang frekuensi rendah saluran 2 sampai 6 (54 – 88 MHz).

b) VHF bidang frekuensi tinggi saluran 7 sampai 13 (174 – 216 MHz).

c) UHF saluran 14 sampai 83 (470 – 890 MHz)

Ada 3 sistem pemancar TV yaitu sebagai berikut:

a) National Television System Committee (NTSC) digunakan USA

b) Phases Alternating Line (PAL) digunakan Inggris

c) Sequential Couleur a’Memorie (SECAM) digunakan Prancis

Sedangkan Indonesia sendiri menggunakan system PAL B. Hal yang membedakan system tersebut adalah format gambar, jarak frekuensi pembawa gambar dan pembawa suara.

3. PRINSIP KERJA PENERIMA TV

Model dan jenisnya blok rangkaian TV bermacam-macam, tergantung pada merek TV yang digunakan.

Secara garis besar blok tersebut memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

a) Antena Televisi

Antena TV menangkap sinyal-sinyal RF dari pemancar televisi. Antena diklasifikasikan berdasarkan konstruksinya ada 3 yaitu:

1) Antena Yagi

2) Antena Perioda Logaritmis

3) Antena Lup

Klasifikasi lain berdasarkan jalur frekuensi gelombang yang diterima adalah:

1) Kanal VHF Rendah

2) Kanal VHF Tinggi

3) Kanal UHF

(a)Antena VHF Rendah

antena1 Prinsip Kerja Televisi

(b) Antena VHF Tinggi

antena2 Prinsip Kerja Televisi

(c) Antena UHF

antena3 Prinsip Kerja Televisi

Antena Perioda Logaritmis

antena4 Prinsip Kerja Televisi

Antena Lup (Loop)

antena5 Prinsip Kerja Televisi

b) Rangkaian Penala (Tuner)

Rangkaian ini terdiri dari penguat frekuensi tinggi (penguat HF), pencampur (Mixer) dan osilator local. Rangkaian penala berfungsi untuk menerima sinyal TV yang masuk dan mengubahnya menjadi sinyal frekuensi IF.

tuner Prinsip Kerja Televisi Gambar 8. Tuner

c) Rangkaian Penguat IF (Intermediate Frequency)

Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal hingga 1000 kali. Sinyal ouput yang dihasilkan penala (Tuner) merupakan sinyal yang lemah dan sangat tergantung pada jarak pemancar, posisi penerima dan bentangan alam. Lingkaran merah menunjukkan rangkaian IF yang sebagian berada didalam tuner.

penguat if tuner Prinsip Kerja Televisi

Gambar 9. Penguat IF

d) Rangkaian Detektor Video

Berfungsi sebagai pendeteksi sinyal video komposit yang keluar dari penguat IF gambar. Selain itu juga berfungsi untuk meredam sinyal suara yang akan mengakibatkan buruknya kualitas gambar

e) Rangkaian Penguat Video

Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal luminan yangberasal dari detector video sehingga dapat menjalankan tabung gambar atau CRT (Catode Ray Tube)

f) Rangkaian AGC (Automatic Gain Control)

Rangkaian AGC berfungsi menstabilkan sendiri input sinyal televisi yang berubah-ubah sehingga output yang dihasilkan menjadi konstan. Lingkaran merah menunjukkan komponen AGC yang berada didalam sebagian IC dan sebagian tuner

agc chasis Prinsip Kerja Televisi

Gambar 10. Rangkaian AGC

g) Rangkaian Penstabil Penerima Gelombang TV.

Rangkaian penstabil penerima gelombang TV diantaranya adalah AGC dan AFT. Automatic Fine Tuning berfungsi mengatur frekuensi pembawa gambar dari penguat IF secara otomatis

h) Rangkaian Defleksi Sinkronisasi

Rangkaian ini terdiri dari empat blok yaitu: rangkaian sinkronisasi, rangkaian defleksi vertical, rangkaian defleksi horizontal dan rangkaian pembangkit tegangan tinggi.

r defleksi vertikal Prinsip Kerja Televisi

Gambar 11. Rangkaian Defleksi Vertical

def hor Prinsip Kerja Televisi

Gambar 12. Rangkaian Defleksi Horizontal

i) Rangkaian Suara

Suara yang kita dengar adalah hasil kerja dari rangkaian ini, sinyal pembawa IF suara akan dideteksi oleh modulator frekuensi (FM). Sebelumnya, sinyal ini dipisahkan dari sinyal pembawa gambar :waaah

j) Rangkaian Catu Daya (Power Supply)

catu daya Prinsip Kerja Televisi

Gambar 14.Rangkaian Catu Daya

Berfungsi untuk mengubah arus AC menjadi DC yang selanjutnya didistribusikan ke seluruh rangkaian.

Pada gambar, rangkaian catu daya dibatasi oleh garis putih dan kotak merah. Daerah di dalam garis putih adalah rangkaian input yang merupakan daerah tegangan tinggi (Live Area). Sementara itu, daerah dalam kotak merah adalah output catu daya yang selanjutnya mendistribusikan tegangan DC ke seluruh rangkaian TV

k) Penguat Krominan

Penguat ini menguatkan frekuensi 4,43 MHz untuk sinyal krominan yang termodulasi dalam sinyal V (sinyal R-Y) dan sinyal U (sinyal B-Y). Lebar jalur penguat 2 MHz

l) Sinkronisasi Warna

Didalam rangkaian sincronisasi warna, sinyal burst sinkronisasi warna dikeluarkan dari sinyal video warna komposit

m) Automatic Color Control (ACC)

Jika amplitudo sinyal ledakan naik, maka ACC mengeluarkan suatu tegangan kemudi yang memperkecil penguatan didalam bagian warna

n) Color Killer (Pemati Warna)

Rangkaian ini berguna untuk menindas penguat warna, apabila sedang tak ada sinyal krominan masuk. Ini terjadi pada waktu penerimaan sinyal hitam-putih

o) Rangkaian Switching Fasa 180 (Pembelah Warna)

Dari penguat krominan, sinyal diumpankan ke colour. Splitter (pembelah warna). Pembelah warna ini memisahkan sinyal yang termodulasi dengan sinyal V dari sinyal yang termodulasi dengan sinyal U. Pembelah warna terdiri dari saklar PAL dan beberapa resistor. Pada akhir setiap garis, selama ditariknya garis PAL maka sinyal V diputar 180 . Sinyal U tidak mengalami putaran fasa

p) Demodulasi Warna

Dengan mempergunakan demodulator warna, maka sinyal-sinyal perbedaan warna di demodulasikan dari sinyal U dan V. Karena pada pemancar, sinyal-sinyal itu dimodulasikan dengan system pembawa suppressed/dihilangkan dan hanya kedua sub pembawa jalur samping (side band sub carier) yang ada. Agar dapat mendemodulasikannya menjadi sinyal pembawa warna yang asli kembali, maka diperlukan sub pembawa 4,43 MHz dengan fasa dan frekuensi yang tepat sama seperti pada pemancar

b. Rangkuman

1. Catu Daya memberikan tegangannya keseluruh bagian penguat

2. Tuner menerima sinyal dari antenna dan memperkuat serta mengubah frekuensi yang diterima menjadi sinyal IF (33,4 MHz dan 38,9 MHz). Sinyal sub pembawa masih dibawa oleh sinyal IF Video

3. Penguat IF dan detector berturut-turut memperkuat sinyal IF dan mendeteksi sinyal videonya. Sinyal IF suara dihasilkan pula pada detector ini setelah sinyal IF 33,4 MHz dan 38,9 MHz dicampur pada detector video

4. Sinyal IF suara diperkuat oleh penguat IF suara dan dideteksi oleh detector FM

5. Penguat audio memperkuat sinyal audio dari hasil detector FM. Kemudian sinyal audio diubah menjadi suara oleh loudspeaker

6. Rangkaian AGC mengatur penguatan penguat RF dan IF vidio, agar output sinyal vidio tetap amplitudonya

7. Sinyal vidio hasil deteksi diperkuat dan dimasukan ke katoda CRT

8. Sebahagian sinyal video dipisahkan pulsa sinkronisasinya

9. Pulsa sinkronisasi horisoltal diberikan ke osilator horizontal melalui AFC

10. Pulsa sinkronisasi vertical memicu osilator vertical agar sinkron

11. Sinyal pembelok vertical dan horizontal masuk ke kumparan defleksi dan juga kumparan konvergensi

12. Sinyal sub pembawa melalui penguat band pass diambilkan dari penguat video

13. Setelah proses demodulasi kroma oleh rangkaian kroma di peroleh sinyal (B – Y) dan (R –Y)

14. Dalam rangkaian matrik dihasilkan sinyal (G – Y) dari sinyal B – Y ) dan (R – Y)

15. Sinyal Y pada katoda CRT dan sinyal (R – Y) , (G – Y) dan (B – Y) menghasilkan pengaruh berkas electron antara katoda dan grid sesuai dengan sinyal R,G dan B

TI DALAM TEKNOLOGI PRODUKSI TV


Pendahuluan

Dalam dunia broadcast atau jaringan televisi banyak yang berpikir bahwa produk utama dari televisi adalah tape. Tiap stasiun TV yang menggunakan teknologi lama memiliki sangat banyak tape sebagai dokumentasi dan dengan sistem manajemen dokumentasi yang tidak beraturan. Bisnis yang dijalankan stasiun TV adalah membuat gambar, yang diimplemtasikan dalam sistem Online Edit Suite (Sistem Editing), Master Control (Pengaturan Penyiaran) dan Newsroom (Pengolahan berita).

Teknologi Informasi (TI) telah melakukan tranformasi terhadap model perkantoran konvensional. Mesin ketik telah digantikan oleh Word Processor (seperti MS-Word). Memo Internal yang biasanya disampaikan oleh sekretaris atau office boy ke setiap karyawan digantikan oleh fungsi email. Revolusi ini menciptakan apa yang disebut sebagai paperless office. Stasiun TV juga bergerak maju dengan TI menuju tapeless production atau produksi televisi tanpa tape.

Televisi berbasis TI menggunakan komoditas hardware dan software TI untuk operasional yang secara tradisional menggunakan berbagaimacam perangkat video hardware. Ini membuat penghematan yang besar, sekaligus memperoleh keuntungan efesiensi dari sistem TI umumnya. Teknologi ini termasuk network (jaringan), shared (berbagipakai) storage dan database. Disamping Infrasturktur, sistem berbasis TI juga menjanjikan peningkatan integrasi antara proses kreatif dan bebagai aplikasi back office (aplikasi yang digunakan didalam kantor yang merupakan aplikasi pendukung bisnis utama, dalam hal ini bisa kita sebut aplikasi atau sistem televisi broadcast), dan juga integrasi dari perencanaan kerja/program sampai pada penjualan dan pemasaran. Potensi TI menawarkan peningkatan Business Intelegence tidak hanya untuk produksi, tapi juga untuk sistem manajemen pelanggan (seperti untuk TV kabel) dan interaksi dengan audiens, menyediakan informasi demografis serta peningkatan pendapatan dari iklan.

Kenapa Televisi Berbasis TI

Stasiun TV Tradisional saat ini mulai melihat kompetisi dari sektor lain seperti dari telekomunikasi. Iklan komersial adalah pendapatan utama dari stasiun TV, namun saat ini sudah ada pemirsa yang menggunakan video on demand dibanding transmisi penyiaran pada umumnya, hal ini dapat mengancam bisnis model lama stasiun TV. Ini mengubah lingkup media televisi sehingga para broadcaster harus melihat berbagai cara yang lebih efesien untuk memproduksi dan mendistribusikan program acaranya.

TI menawarkan :

• Platform pemrosesan yang sangat murah.
• Lingkungan Collaborative Storage (Berbagai pakai ruang penyimpanan)
• Jaringan IP untuk distribusi dan pengiriman.

Kedengarannya mudah, tapi menggunakan perangkat TI untuk menangani keluaran audio/video dari suatu proses produksi masih merupakan teknologi yang baru saja dapat diimplementasikan. Untuk bersaing dengan perangkat konvensional, diperlukan sistem pemrosesan tingkat tinggi dan media penyimpanan yang murah.

Workstation dual-processor terbaru sangat bagus bagi SD video, tapi secara perhitungan, pemrosesan intensif seperti efek dan encoding tetap menggunakan perangkat tambahan untuk akselerasi, khususnya untuk HD.

Kemajuan Perangkat TI

Kinerja tinggi dari RAID Storage (teknologi penggabungan media storage/hardisk) saat ini dapat mencapai paling sedikit E2 per GB. Ini seperti 1 (satu) menit dari SD Video yang tidak dikompresi. Sepuluh storage ukuran terabyte yang digabungkan adalah hal umum di perusahaan TV saat ini. Kebutuhan lain adalah kecepatan yang tinggi untuk jaringan, saat ini Gigabit Ethernet sudah cukup memuaskan.

Produksi televisi memiliki proses yang linier. Content dilewatkan dari satu departemen ke bagian lain dalam suatu rantai proses. Operasional secara paralel hanya dibatasi oleh grafis dan desain sound. Track audio dapat dikerjakan secara terpisah dengan video dan kemudian disatukan kembali setelah dilakukan editing dan mixing. Editing Nonlinier memberikan kemampuan kerja secara bersama-sama (colaborative working) dengan materi audio/video yang sama, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan tape. Selain itu juga shared storage memungkinkan beberapa editor bekerja secara bersama-sama menangani satu set clip yang sama.

Bebagipakai Media Penyimpanan (Shared storage)

Konsep shared storage saat ini adalah hal yang umum dalam lingkup editing, news dan playout multichannel, tapi shared storage tidak secara umum tersedia bagi seluruh operasional produksi.

Membangun jaringan video storage dengan kinerja tinggi masih menghadapi beberapa kendala dan tantangan. Jaringan editing umumnya mendukung sampai 50 mesin editing. Jaringan TV mungkin perlu sampai ratusan mesin editing. Dengan kondisi ini terjadi beberapa masalah seperti dibutuhkan sistem file khusus untuk memenuhi permintaan kinerja yang tinggi, koneksi harus dapat menangani bandwidth yang sangat besar.

Sampai saat ini, jaringan video storage telah menggunakan koneksi tingkat tinggi seperti fiber channel (fibre optic). Jaringan konvensional Ethernet 10/100 Base T tidak memiliki kapasitas untuk layanan sinyal video. Itu berarti perubahan menggunakan GbE (Gigabit Ethernet) adalah hal yang harus dilakukan , tapi untuk berpindah dari SD ke HD harus ditingkatkan lagi kinerjanya.

Kompresi Kapasitas file Video (biasa kita sebut kompresi video) diharapkan menurunkan tingkat kebutuhan pada media penyimpanan dan kecepatan tranfer data pada jaringan. Sehingga teknologi kompresi yang tepat menjadi salah satu solusi TI untuk mencapai pemenuhan kebutuhan optimalisasi dari sistem produksi

Produksi HD meningkatkan kebutuhan media penyimpanan dan kinerja akses dan pemrosesan tingkat tinggi. Ukuran file yang sangat besar dan kecepatan tranfer data yang tinggi dari HD hampir saja meniadakan kemajuan dari kinerja sistem media penyimpanan yang dikembangkan dari teknologi disk dan jaringan. Namun penggunaan teknologi kompresi memungkinkan produksi HD ini.

Shared storage hanya diperlukan dimana editor/user perlu kerja secara bersama-sama. Disisi lain storage network akan melayani permintaan untuk melakukan transfer audio/video pada jaringan, sehingga perlu standard yang sama untuk memastikan interoperabilitas. Format yang sangat menjanjikan bagi broadcaster dalam tranfer file audio/video adalah AAF dan MXF.

Menyederhanakan Kebutuhan (Simplifying Demands)

File MXF tidak menyelesaikan persoalan file interchange pada jaringan TI. Dengan membungkusnya dapat menjadi beberapa operational pattern (OP) untuk codecs yang berbeda seperti pada MPEG, DV dan JPEG2000. Untuk mendukung sepenuhnya pergerakan file, dibutuhkan engine transcoding. Desain sistem harus memastikan bahwa rangkaian dari codec tidak membuat artifact yang tidak dapat diterima dalam workflow media utama broadcast.

Produksi berbasis IT menimbulkan pertanyaan : Format apa yang digunakan untuk Archive? Produksi berbasis tape dapat menyimpan tape kamera orisinil, ditambah master program yang telah selesai. Dalam rantai produksi tapeless, apa yang seharusnya di archive dan apa formatnya? Haruskan dikomperesi atau didekompresi, pakai long GOP atau dicode I-frame? Jawabannya terletak pada nilai dari investasi perangkat broadcast dan model media penyimpanannya.
Archiving (Pendokumentasian)

Disamping proses produksi yang membuat program sampai selesai, ada banyak manajemen service atau layanan lain seperti penjadwalan sumber daya, urutan/proses kerja dan perencanaan. Mengintegrasikan back-office biasanya membutuhkan banyak biaya. Layanan profesional yang mahal diperlukan untuk membangun integrasi aplikasi serta interface yang dapat dikostumisasi, seperti integrasi sistem management, finance atau aplikasi perencanaan. Melakukan upgrade satu aplikasi sering membutuhkan kerja lebih banyak untuk memperbaiki proses operasional dari data interface. Biaya awal dan kesulitan support, sering menghalangi broadcaster untuk integrasi aplikasi manajemen.

Integrating the Back-Office

Keuntungan integrasi back-office dapat dilihat dibanyak perusahaan, selanjutnya dalam dunia TV bagaimana broadcaster menemukan cara untuk melakukan efesiensi dan penghematan? Satu teknologi telah menjadi solusi atas pertanyaan tersebut yaitu Service-Oriented Architecture (SOA) menggunakan layanan Web.

Web services

Ini dimulai dengan menggunakan area playout untuk interface antara automation dan back-office. Menggunakan arsitektur standar (seperti SOA), biaya pengembangan dari interface dapat ditekan serendah mungkin. Pengembang dapat berkonsentrasi pada data apa yang harus dipertukarkan tidak hanya bagaimana data dipertukarkan.

Web services bukanlah jawaban yang lengkap, tapi dapat menyederhanakan pengembangan integrasi interface yang terpisah antar aplikasi

Bagian Produksi secara tradisional menggunakan pengamanan fisik untuk melindungi media dari pencurian. Pada content sistem produksi berbasis TI, tidak hanya archive content yang terbuka dari serangan pencuri cyber, tapi juga informasi bisnis rahasia dapat terlihat dan tersebar di jaringan. Web Service menghadirkan masalah tersendiri yang dibawa oleh HTTP, hacker dapat melewati firewall dengan mudah.

Security

Ada banyak metode-metode yang sudah baku dalam dalam membangun jaringan yang aman, tapi keamanan butuh biaya tambahan dan harus menjadi faktor penentu untuk kearah Produksi berbasis TI agar dapat diimplementasikan.

Sistem Broadcasting berbasis TI menjanjikan peningkatan efesiensi dengan memudahkan kerja secara bersama dan peningkatan penggunaan manajemen informasi. Tantangannya adalah pada implementasi yang berhubungan dengan manusia dan kendala teknis. Kondisi global dari dunia entertainment dengan berbagai macam variasi channel yang tersedia untuk disampaikan kepada audiens, permintaan layanan televisi dengan menggunakan berbagai media selain televisi, ada juga media web dan perangkat mobile.

Kesimpulan

Produksi TV berbasis IT memiliki banyak hal, mulai dari mengadopsi workflow berbasis file melalui back-office yang terintegrasi penuh. Kemudian sebagai produk TI biaya stasiun TV menjadi lebih murah dengan kinerja yang makin tinggi, ditambah lagi mudah dalam implementasinya sebagai suatu sistem, alasan untuk mengadopsi proses produksi berbasis TI akan menjadi keharusan saat ini dan dimasa depan.

pemancar TV VHF

A. Kualitas Penerimaan Siaran Televisi

Besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat dipengaruhi beberapa parameter dari stasiun pemancar yang meliputi antara lain :

  1. Daya pancar
  2. Gain dan sistem antena pemancar
  3. Jarak lokasi pemancar dengan lokasi penerimaan
  4. Frequency saluran yang digunakan
  5. Gain dan antena sistem dari pesawat penerima
  6. Profile chart antara antena pemancar dengan antena pesawat penerima
  7. Ketinggian lokasi pemancar terhadap lokasi penerima

Apabila dinyatakan dalam rumus, dapat kita lihat dengan jelas parameter-parameter yang berpengaruh pada penerimaan signal siaran televisi :

Pfs(db) = Po(db) + Gant Tx(db) – Apl(db) + Gant Rx(db)

Pfs(db) : Level Field Strength dalam satuan dB

Po(db) : Power Output pemancar dalam satuan dB

Gant Tx(db) : Gain antena pemancar dalam satuan dB

Apl(db) : Anttenuasi Path Loss dalam satuan dB

Gant Rx(db) : Gain antena penerima dalam satuan dB

B. Daya Pancar

Kiranya semua orang tahu bahwa besarnya daya pancar, akan mempengaruhi besarnya signal penerimaan siaran televisi disuatu tempat tertentu pada jarak tertentu dari stasiun pemancar televisi. Semakin tinggi daya pancar semakin besar level kuat medan penerimaan siaran televisi. Namun demikina besarnya penerimaan siaran televisi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya daya pancar.

C. Gain Antena

Besarnya Gain antena dipengaruhi oleh jumlah dan susunan antena serta frequency yang digunakan. Antena pemancar UHF tidak mungkin digunakan untuk pemancar TV VHF dan sebaliknya, karena akan menimbulkan VSWR yang tinggi. Sedangkan antena penerima VHF dapat saja untuk menerima signal UHF dan sebaliknya, namun Gain antenanya akan sangat mengecil dari yang seharusnya.

D. Path Loss (redaman Ruang)

Path Loss dapat diartikan sebagai redaman propagasi, yaitu besarnya daya yang hilang dalam menempuh jarak tertentu. Besarnya redaman disamping ditentukan oleh kondisi alam seperti tidak adanya halangan antara pemancar dengan penerima dan kondisi altitude dari masing-masing lokasi maupun antara kedua lokasi, redaman sangat dipengaruhi oleh jarak antara pemancar dengan penerima dan frekwensi yang digunakan. Dengan tanpa memperhitungkan kondisi alam dan lokasi dimana pemancar dan penerima berada, besarnya Path Loss dapat dihitung dengan menggunakan rumus “Free Space Loss” sebagai berikut :

A pl(db) = +32,5(db) +(20 log D (km))(db) + (20 log F (Mhz))(db)

E. Kebutuhan Daya Pancar

Besarnya daya pancar yang diperlukan untuk menjangkau sasaran pada jarak tertentu dipengaruhi antara lain oleh besarnya frekwensi, ketinggian antena pemancar dan antena penerima serta profile antara lokasi pemancar dengan lokasi penerima, serta besarnya level kuat medan yang diharapkan dapat diterima oleh pesawat penerima. Besarnya level kuat medan penerimaan siaran televisi untuk frekwensi band tertentu, CCIR/ ITU-R memberikan rekomendasi yang dapat digunakan sebagai referensi, namun demikina di setiap negara dapat saja memiliki kebijaksanaan tersendiri tentang kualitas penerimaan siaran televisi yang dikaitkan dengan persyaratan kuat medan minimum. Sampai saat ini di Indonesia belum ada kebijaksanaan khusus mengenai persyaratan minimum kuat medan pancaran siaran televisi yang harus dipenuhi untuk suatu penerimaan siaran televisi yang dianggap baik. Sementara itu, untuk kebutuhan perencanaan pengembangan perluasan jangkauan digunakan rekomendasi CCIR/ ITU-R sebagai acuan. Dibawah ini sebagai contoh disampaikan daftar kuat medan minimum menurut rekomendasi CCIR dan daftar kuat medan minimum yang digunakan oleh negara Australia.

CCIR417.JPG

TelecomAus.JPG

Untuk menganalisa perbedaan kebutuhan daya pancar antara pemancar VHF dengan UHF dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan propagasi gelombang pada “free space” ataupun menggunakan chart/ grafik propagasi yang disusun oleh CCIR serta dengan memegang variabel-variabel tertentu dalam kondisi yang sama. Pada kesempatan ini marilah kita lakukan perhitungan dengan menggunakan rumus propagasi gelombang pada “free space” dengan variabel-variabel yang dipegang tetap yaitu sebagai berikut :

  1. Jarak pemancar dengan penerima = 20 Km
  2. Antara pemancar dan penerima tidak ada halangan/ obstacle dan ketinggian antena pemancar dan penerima tidak diperhitungkan
  3. Frekwensi VHF = 200Mhz dan UHF = 500Mhz
  4. Pfs = Field strength untuk VHF = 75dbuV/m = -30dBm/Z = 50Ohm
  5. Pfs = Field strength untuk UHF = 80dBuV/m = -27dBm/Z = 50Ohm
  6. Gant = Gain antena = 10dB
  7. Po = power output pemancar

Po(db) = Pfs(db) – Gant(db) + 32,5(db) + (20logD(km))(db) + (20logF(Mhz))(db)

Dengan data sebagaimana tersebut diatas, dapat dihitung kebutuhan power output VHF yang dapat menjangkau sasaran sejauh 20Km adalah sebagai berikut :

Po(db) = Pfs(db) – Gant(db) + 32,5(db) + (20logD(km))(db) + (20logF(Mhz))(db)

Po(db) = -32bdm – 10db + 32,5db + 20log20 + 20log200

Po(db) = -32bdm – 10db + 32,5db + 26db + 46db

Po(db) = 62,5 dbm = 2,5dbk = 1,8KW

Sedangkan untuk pemancar UHF diperlukan power output sebesar :

Po(db) = Pfs(db) – Gant(db) + 32,5(db) + (20logD(km))(db) + (20logF(Mhz))(db)

Po(db) = -27bdm – 10db + 32,5db + 20log20 + 20log500

Po(db) = -27bdm – 10db + 32,5db + 26db + 54db

Po(db) = 75,5 dbm = 15,5dbk = 35KW

Apabila dilakukan perhitungan dengan menggunakan grafik rumus propagasi gelombang pada “free space” dengan variable-variable yang dipegang tetap yaitu sebagai berikut :

  1. Jarak pemancar dengan penerima = 20Km
  2. Antara pemancar dan penerima tidak ada halangan/ obstacle
  3. Ketinggian antena pemancar = 150meter, dan ketinggian antene penerima penerima = 10meter
  4. Pfs = Field strength untuk VHF = 75dbuV/m = -32dBm/Z = 50Ohm
  5. Pfs = Field strength untuk UHF = 80dBuV/m = -27dBm/Z = 50Ohm
  6. Gant = Gain antena = 10dB
  7. Po = Power output pemancar

Dengan data sebagaimana tersebut diatas dan dengan menggunakan standard CCIR, besarnya daya pancar dapat dihitung sebagai berikut :

1. Perhitungan Daya Pancar Pemancar VHF,
Dengan menggunakan grafik pada gambar 1, dapat dijelsakan bahwa dengan 1 Kw atau 0dbk ERP pada jarak 20Km dengan ketinggian antena pemancar 150 meter dapat diperoleh field strength sebesar 63dbuV/m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa untuk mendapatkan field strength sebesar 75dbuV/m pada jarak 20Km diperlukan ERP sebesar 12dBk dan dengan menggunakan antena pemancar dengan Gain 10dB, power output pemancar VHF yang diperlukan sebesar 2dBk atau 1,58KW

2. Perhitungan Daya Pancar Pemancar UHF,
Dengan menggunakan grafik pada gambar 2, dapat dijelaskan bahwa dengan 1 KW atau 0dbk ERP pada jarak 20Km denagn ketinggian antena pemancar 150 meter dapat diperoleh Field Strength sebesar 61dbuV/m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa untuk mendapatkan field strength sebesar 19dbk, dan dengan menggunakan antena pemancar dengan Gain 10dB, power output pemancar UHF yang diperlukan adalah sebesar 9dbk atau 8KW Dari uraian tersebut diatas dapat disampaikan bahwa untuk mendapatkan kualitas penerimaan gambar dan suara yang baik pada jarak yang sama diperlukan daya pancar yang lebih tinggi apabila menggunakan pemancar UHF dari pada apabila menggunakan pemancar VHF.

F. Biaya Investasi

Penggunaan pemancar UHF untuk menjangkau daerah sasaran yang sama jauhnya, diperlukan biaya investasi yang jauh lebih besar daripada menggunakan pemancar VHF. Hal ini sangat wajar karena untuk menjangkau sasaran tertentu pemancar UHF memerlukan daya yang 3 s/d 5 kali lebih besar daripada daya pemancar VHF. G. Kualitas Kualitas hasil pencaran dari pemancar VHF dibandingkan dengan kualitas hasil pancaran dari pemancar UHF adalah sama asalkan keduanya memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang telah ditentukan. Perbedaan yang mungkin terjadi tudak akan dapat dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, tetapi hanya dapat diketahui dengan mengunakan alat ukur. Tidak adanya perbedaan kualitas penerimaan gambar dan suara dari pemancar televisi VHF dan UHF ini barangkali dapat ditanyakan kepada yang sempat melihat siaran televisi Singapore, Malaysia, Jepang ataupun Jerman, dimana perbedaan kualitas penerimaan siaran televisi VHF dan UHF tidak dapat di indentifikasi.

PENGGUNAAN PEMANCAR VHF OLEH TVRI

Berdasarkan peraturan internasional yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan frekwensi (Radio Regulation) untuk penyiaran televisi pada pita frekwensi VHF dan UHF. Sesuai dengan sistem pertelevisian yang dianaut oleh indonesia yaitu CCIR B dan G maka penggunaan frekwensi tersebut telah diatur sebagai berikut :

VHF band I : saluran 2 dan 3
VHF band III : saluran 4 s/d 11
VHF band IV : saluran 21 s/d 37
VHF band V : saluran 38 s/d 70

Sejarah pertelevisian di Indonesia diawali pada tahun 1962 oleh TVRI di Jakarta dengan menggunakan pemancar televisi VHF. Pembangunan pemancar TVRI berjalan dengan cepat terutama setelah diluncurkannya satelite palapa pada tahun 1975. Pada tahun 1987, yaitu lahirnya stasiun penyiaran televisi swasta pertama di Indonesia, stasiun pemancar TVRI telah mencapai jumlah kurang lebih 200 stasiun pemancar yang keseluruhannya menggunakan frekwensi VHF, dan pemancar TV swasta pertama tersebut diberikan alokasi frekwensi pada pita UHF. Kebijaksanaan penggunaan pita frekwensi VHF untuk TVRI dan UHF untuk swasta pada saat itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan yang menguntungkan negara sebagai berikut :

  1. Jumlah saluran TV pada pita VHF yang jumlahnua hanya 10 saluran hampir seluruhnya telah digunakan untuk 200 stasiun pemancar terutama di pulau Jawa, maka pemancar TV swasta yang pertama dan berlokasi di Jakarata dialokasikan pada pita frekwensi UHF.
  2. Pemancar VHF lebih ekonomis dan tidak berbeda kualitasnya dengan pemancar TV UHF sangat cocok unruk stasiun penyiaran pemerintah yang terbatas dana pembangunannya.
  3. Kesinambungan pemeliharaan dan penggantian pemancar TVRI yang 70% adalah buatan LEN sangat didukung oleh hasil produksi LEN yang belum memproduksi pemancar UHF.
  4. TVRI terus memperluas jangkauannya sampai ke pelosok tanah air dimana saat itu masih banyak masyarakat di daerah yang belum mampu membeli pesawat TV berwarna dan pada saat itu pesawat hitam putih hanya dapat menerima saluran VHF.

Kamis, 15 Juli 2010

DWDM

Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) merupakan teknologi terbaru dalam telekomunikasi dengan media kabel serat optik. Dimana Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) merupakan suatu metode penggabungan sinyal-sinyal optik dengan panjang gelombang operasi yang berbeda-beda yang ditransmisikan kedalam sebuah serat optik tunggal dengan memperkecil spasi antar kanal sehingga terjadi peningkatan jumlah kanal yang mampu dimultipleks. Inti perbaikan dari DWDM ini terdapat pada infrastruktur yang digunakan, seperti jenis laser dan penguat. Perbaikan teknologi ini dipicu dengan adanya perkembangan teknologi fotonik, seperti penemuan EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) sebagai penguat optis, dan laser dengan presisi yang lebih tinggi. Penemuan EDFA memungkinkan DWDM beroperasi pada daerah 1550 nm yang memiliki attenuasi rendah. Secara sederhana sebuah jaringan yang menggunakan DWDM dapat digambarkan pada gambar diatas

Konsep Dasar DWDM

Masukan sistem DWDM berupa trafik yang memiliki format data dan laju bit yang berbeda dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut akan mengubah masing-masing sinyal informasi dan memancarkan dalam panjang gelombang yang berbeda-beda λ 1, λ 2, λ 3,………, λN. Kemudian masing-masing panjang gelombang tersebut dimasukkan kedalam MUX (multiplexer), dan keluaran disuntikkan kedalam sehelai serat optik. Selanjutnya keluaran MUX ini akan ditransmisikan sepanjang jaringan serat. Untuk mengantisipasi pelemahan sinyal, maka diperlukan penguatan sinyal sepanjang jalur transmisi. Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih dahulu dengan menggunakan penguat akhir (post amplifier) untuk mencapai tingkat daya sinyal yang cukup. ILA (in line amplifier) digunakan untuk menguatkan sinyal sepanjang saluran transmisi. Sedangkan penguat awal (pre-amplifier) digunakan untuk menguatkan sinyal sebelum dideteksi. DEMUX (demultiplexer) digunakan pada ujung penerima untuk memisahkan antar panjang gelombang yang selanjutnya akan dideteksi menggunakan photodetector. Multiplexing serentak kanal masukan dan demultiplexing kanal keluaran dapat dilakukan oleh komponen yang sama, yaitu multiplexer/demultiplexer.

Spasi Kanal

Spasi kanal merupakan jarak minimum antar panjang gelombang agar tidak terjadi interferensi. Standarisasi spasi perlu dilakukan agar sistem DWDM dari berbagai vendor yang berbeda dapat saling berkomunikasi. Jika panjang gelombang operasi berbanding terbalik dengan frekuensi, hubungan bedanya dikenal dalam panjang gelombang masing-masing sinyal. Faktor yang mengendalikan besar spasi kanal adalah bandwidth pada penguat optik dan kemampuan penerima mengidentifikasi dua set panjang gelombang yang lebih rendah dalam spasi kanal. Kedua faktor itulah yang membatasi jumlah panjang gelombang yang melewati penguat. Saat ini terdapat dua pilihan untuk melakukan standarisasi kanal, yaitu menggunakan spasi lamda atau spasi frekuensi. Hubungan antara spasi lamda dan spasi frekuensi adalah:

rumus 2.1.jpg

Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi (dan sebaliknya) akan menghasilkan nilai yang kurang presisi, sehingga sistem DWDM dengan satuan yang berbeda akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. ITU-T kemudian menggunakan spasi frekuensi sebagai standar penentuan spasi kanal.

Kelebihan Teknologi DWDM

Kelebihan teknologi DWDM adalah transparan terhadap berbagai trafik. Kanal informasi masing-masing panjang gelombang dapat digunakan untuk melewatkan trafik dengan format data dan laju bit yang berbeda. Ketransparanan sistem DWDM dan kemampuan add/drop akan memudahkan penyedia layanan untuk melakukan penambahan dan atau pemisahan trafik. Berkaitan dengan ketransparanan sistem DWDM dikenal ada dua sistem antarmuka, yaitu system terbuka dan sistem tertutup, ditunjukkan oleh Gambar di bawah ini.

perbandingan sistem dwdm terbuka dan tertutup.jpg

Elemen jaringan DWDM sistem terbuka memungkinkan SONET/SDH, switch IP dan ATM disambungkan secara langsung pada jaringan DWDM. Sedangkan pada sistem tertutup, switch IP dan atau ATM tidak dapat secara langsung dihubungkan ke jaringan DWDM, namun memerlukan perantara SONET/SDH yang berasal dari vendor perangkat DWDM yang digunakan.Perbandingan teknologi serat optik konvensional dan teknologi DWDM adalah sebagai berikut.

1. Kapasitas serat optik yang dipakai lebih optimal. DWDM dapat mengakomodir banyak cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda dalam sehelai serat optik, sedangkan teknologi serat optik konvensional hanya dapat mentransmisikan satu panjang gelombang dalam sehelai serat optik.

konversi spasi lamda ke spasi frekuensi  1550nm.jpg

2. Instalasi jaringan lebih sederhana. Penambahan kapasitas jaringan pada teknologi serat optik konvensional dilakukan dengan memasang kabel serat optik baru, sedangkan pada DWDM cukup dilakukan dengan penambahan beberapa panjang gelombang baru tanpa harus melakukan perubahan fisik jaringan.

3. Penggunaan penguat lebih efisien. DWDM menggunakan penguat optic yang dapat menguatkan beberapa panjang gelombang sekaligus dengan interval penguatan yang lebih jauh, sehingga penguat optik yang digunakan pada DWDM lebih sedikit dibandingkan dengan teknologi serat optik konvensional. Penguat optik yang digunakan dalam teknologi DWDM adalah EDFA. EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) merupakan serat optik dari bahan silica (SiO2) dengan intinya (core) telah dikotori dengan bahan Erbium (Er3+), termasuk ke dalam golongan Rare-Earth Doped Fiber Amplifier. Berikut ini beberapa keunggulan yang dimiliki oleh EDFA, sehingga dapat mendukung teknologi DWDM:

a. Faktor peroleh EDFA sangat tinggi

EDFA pada tahap eksperimen memiliki gain sebesar 40 dB. Sedangkan perangkat EDFA komersil mempunyai gain 20-30 dB dengan memompa energi sebesar 10 mW.

b. Bandwidth lebar

Ion Erbium melepaskan foton dengan interval panjang gelombang 1530-1560 nm atau sama dengan bandwidth sebesar 3 THz. Pada interval tersebut redaman yang terjadi pada serat optik hanya berkisar 0.2 dB/km, sehingga EDFA dapat memperkuat puluhan sinyal dengan

panjang gelombang yang berbeda secara bersamaan.

c. Noise Figure EDFA sangat kecil

Noise Figure merupakan perbandingan antara S/Nin dengan S/Nout, sehingga untuk tansmisi jarak jauh akan menghasilkan akumulasi derau optik, namun dengan adanya tapis optik pada perangkat EDFA maka noise figure yang muncul sangat kecil.

d. Daya output yang besar

Daya output pada EDFA meningkat seiring dengan meningkatnya daya diode laser (optical pump).

e. Kemudahan instalasi

EDFA mudah diinstalasi karena EDFA juga berbentuk serat.

4. Biaya pemasangan, pemeliharaan dan pengembangan lebih efisien. Hal ini akibat arsitektur jaringan DWDM lebih sederhana dibandingkan arsitektur jaringan serat optik konvensional.

Elemem Jaringan DWDM

Dalam aplikasi DWDM terdapat beberapa elemen yang memiliki spesifikasi khusus disesuaikan dengan kebutuhan sistem. Elemen tersebut adalah:

1. Wavelength Multiplexer/Demultiplexer

Wavelength Multiplexer berfungsi untuk memultiplikasi kanal-kanal panjang gelombang optik yang akan ditransmisikan dalam serat optik. Sedangkan wavelength demultiplexer berfungsi untuk mendemultiplikasi kembali kanal panjang gelombang yang ditransmisikan menjadi kanalkanal panjang gelombang menjadi seperti semula.

2. OADM (Optical Add/Drop Multiplexer)

Diantara titik multiplexing dan demultiplexing dalam sistem DWDM merupakan daerah dimana berbagai macam panjang gelombang berada, pada beberapa titik sepanjang span ini sering diinginkan untuk dihilangkan atau ditambah dengan satu atau lebih panjang gelombang. OADM (Optical Add/Drop Multiplexer) inilah yang digunakan untuk melewatkan sinyal dan melakukan fungsi add and drop yang bekerja pada level optik.

3. OXC (Optical Cross Connect)

Perangkan OXC (Optical Cross Connect) ini melakukan proses switching tanpa terlebih dahulu melakukan proses konversi OEO (Optik-elektrooptik) dan berfungsi untuk merutekan kanal panjang gelombang. OXC ini berukuran NxN dan biasa digunakan dalam konfigurasi jaringan ring yang memiliki banyak node terminal.

4. OA (Optical Amplifier)

Merupakan penguat optik yang bekerja dilevel optik, yang dapat berfungsi sebagai pre-amplifier, in line-amplifier dan post-amplifier.

Konfigurasi Sistem DWDM

Menurut konfigurasinya sistem DWDM dibagi menjadi 2 :

1. Sistem DWDM satu arah (one way transmission), pada sistem ini dalam satu serat dapat terjadi beberapa transmisi dengan arah yang sama secara simultan. Seperti gambar berikut ini :

sistem dwdm satu arah.jpg

2. Sistem DWDM dua arah (two way transmission), dimana dalam sebuah serat terjadi dua transmisi dengan arah yang berlawanan secara simultan seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Dimana pada serat terjadi pengiriman informasi dari DWDM 1 ke DWDM 2 dengan panjang gelombang λ 1 dan pada saat yang bersamaan ditransmisikan informasi dari DWDM2 ke DWDM 1 dengan panjang gelombang λ 2.

sistem dwdm dua arah.jpg

Sumber laser DWDM dan detector DWDM

Salah satu contoh sumber laser yang digunakan dalam sistem DWDM adalah Distribution Feedback (DFB) laser. DFB memiliki kelebihan mampu mengakses semua bandwidth optik pada jendela transmisi 1550 nm, yang memiliki daya output sampai 25 mW (tunable) dari 1530-1563 nm. APD (Avanlanche Photo Dioda) adalah salah satu jenis detector yang digunakan dalam DWDM, yang memiliki sensitivitas penerimaan yang besar dan akurat.

Sabtu, 10 Juli 2010

Starting motor induksi – Bintang Segitiga

Starting motor asinkron dijumpai arus yang sangat besar (5 – 6 kali arus nominal) pada waktu start (n = 0). Akan tetapi khususnya pada motor-motor asinkron dengan rotor sangkar, karena konstruksi rotor yang kekar itu, arus sebesar itu takkan mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada motor bila motor tersebut dihubungkabn langsung dengan jala-jala. Start langsung ini dalam praktek memang banyak dilakukan. Dalam hal ini motor dihubungkan dengan jala-jala tiga phasa dengan pemutus biasa atau dengan kontaktor-kontaktor. Bila dipakai kontaktor maka perlu pada tiap kontaktor maka perlu pada tiap phasa diberi sikring sebagai pengaman arus lebih. Yang membatasi penggunaan start secara langsung ini adalah kapasitas jala-jala yang memberikan daya listrik kepada motor tersebut. Arus pada waktu start tersebut bila kapasitas jala-jala tidak begitu besar akan mengakibatkan turunnya tegangan jala-jala sesaat, hal mana akan dapat dilihat dari mengedipnya lampu-lampu penerangan yang dihubungkan pada jala-jala tersebut. Karena itu pada umumnya oleh perusahaan listrik setempat ditetapkan daya motor asinkron maksimum yang diperbolehkan untuk distart secara langsung pada jala-jala tersebut, misalnya 5 kW. Pada jala-jala yang lebih kuat dapat ditetapkan daya motor yang lebih besar dari pada itu. Dalam hal start langsung tidak diperkenankan, maka jalan satu-satuya untuk mengurangi arus start adalah dengan jalan memberikan tegangan yang dikurangi pada waktu start.

Jalan yang paling sederhana untuk menurunkan tegangan tegangan pada jepitan-jepitan motor ialah dengan memasang suatu impedansi Z secara seri dengan motor pada waktu start. Seperti pada gambar dibawah ini :

start motor dengan impedansi

start motor dengan impedansi

Dalam hal ini Z dapat dipilih suatu reaktansi atau suatu tahanan R, yang nilainya dipilih demikian rupa, sehingga arus motor pada waktu start tidak lebih dari + 150 % …. 200 % arus nominal motor. Pada waktu start hanya saklar c1 yang menutup, sedangkan c2 tetap terbuka setelah motor berangsur-angsur mendekati kecepatan penuhnya, maka c2 pun menutup sehingga menerima tegangan penuh. Adalah juga jelas bahwa tegangan jala-jala untuk keperluan start dapat diberikan dengan pertolongan suatu auto transformator seperti ditunjukan pada gambar dibawah ini :

starting motor dengan autotrafo

starting motor dengan autotrafo

Pada waktu start saklar-saklar yang menutup dahulu adalah c2 dan c3. setelah motor berangsur mencapai kecepatan penuhnya, c2 dan c3 membuka dan sebagai gantinya c1 menutup. Dengan demikian motor langsung dihubungkan dengan jala-jala dan bersamaan dengan itu auto trafo dilepaskan dari jala-jala. Penggunaan autotrafo untuk keperluan start mempunyai keberatan dari segi mahalnya auto trafo bagi kepeluan start tersebut. Oleh karena itu penggunaannya dibatasi motor-motor yang besar, dimana ongkos bagi keperluan pemakaian autotrafo tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

Untuk motor-motor yang tidak terlalu besar lebih murah bila dipergunakan apa yang disebut saklar Y-\Delta . Saklar Y-\Delta adalah suatu saklar putar dengan tiga buah posisi seperti gambar dibawah ini :

starting motor Y-D

starting motor Y-D

Ketiga buah posisi tersebut adalah posisi 0 ( motor sama sekali terlepas dari sumber daya), posisi Y ( motor terhubung dengan sumber daya dalam Y ) serta posisi \Delta ( motor terhubung ke sumber daya dalam \Delta ). Mengingat hal yang tersebut terakhir ini, hanya motor – motor dengan kumparan stator dalam \Delta yang dapat mempergunakan saklar Y-\Delta . Ini.

Arus start yang diambil dari sumber listrik dengan mempergunakan saklar Y-\Delta ini dapat memandang hal – hal sebagai berikut : seandainya pada waktu start motor dihubungkan dalam \Delta maka arus yang diambil jala-jala I\Delta . dalam pada itu kumparan motor mendapat tegangan U, sedangkan arus yang mengalir melaluinya adalah If = I\Delta /\sqrt{3}. akan tetapi kalau pada waktu start motor dihubungkan dalam Y, maka tiap kumparan motor hanya mendapat tegangan U/Y3. karenanya arus kumparanpun 1/Y3 kali lebih kecil, jadi sama dengan If/Y3.

Karena rangkaian adalah dalam Y, maka arus jala-jala sama dengan arus kumparan, jadi IY = If/D3. dengan If = IY/\sqrt{3}, maka kita peroleh IY=I\Delta /3. jadi dengan dempergunakan saklar Y-\Delta arus start dapat dikecilkan 3x dari pada seandainya langsung dihubungkan ke sumber listrik. Kerjanya saklar sudah jelas dari gambar. Pada posisi 0, jepitan-jepitan X-Y-Z dan U-V-W dari motor tak dihubungkan satu sama lain maupun jala-jala. Pada posisi Y, jepitan-jepitan U-V-W dihubungkan masing-masing berturut-turut dengan jepitan jala-jala R, S, T. pada posisi \Delta yang terhubung satu sama lain dengan jepitan-jepitan Z-U-R, X-V-S, Y-W-T. Saklar Y-\Delta ini pada umumnya dibuat sedemikian rupa sehingga arah perputarannya hanya mungkin dari 0 ke Y kemudian ke \Delta , dan tidak dapat sebaliknya. Dengan demikian mau tak mau posisi Y dilaui waktu menjalankan motor untuk menghindarkan menghubungkan penghubungan langsung ke \Delta .

Teori Dasar Motor Induksi

Motor induksi atau motor asinkron adalah motor listrik arus bolak balik (AC) yang paling banyak digunakan. Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja berdasarkan induksi medan magnet stator ke statornya, dimana arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator.Berdasarkan asupan dayanya, motor induksi terbagi atas dua jenis, yaitu motor induksi satu phasa dan motor induksi tiga phasa. Motor induksi satu phasa dioperasikan pada sistem satu phasa yang banyak digunakan terutama pada penggunaan untuk peralatan rumah tangga seperti kipas angin, lemari es, pompa air, mesin cuci dan sebagainya karena motor induksi satu phasa mempunyai daya keluaran yang rendah, sementara motor induksi tiga phasa dioperasikan pada sistem tiga phasa dan banyak digunakan didalam berbagai bidang industri.

Bentuk fisik dari motor induksi tampak seperti berikut ini :

Bentuk Fisik Motor Induksi

Secara singkat, prinsip kerja dari motor induksi dapat dijelaskan seperti berikut: Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan tiga fasa akan menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron. Kecepatan medan megnet putar tergantung pada jumlah kutub stator dan frekuensi sumber daya. Kecepatan itu disebut kecepatan sinkron, yang ditentukan dengan rumus :

ns = 120 f / p

Dimana:

  • ns = Kecepatan sinkron ( rpm )
  • p = Jumlah kutub
  • f = Frekuensi ( Hz )

Medan putar pada stator tersebut akan memotong konduktor-konduktor pada rotor, sehingga terinduksi arus; dan sesuai dengan Hukum Lentz, rotor pun akan ikut berputar mengikuti medan putar stator. Tegangan induksi pada rotot tergantung pada kecepatan relatif antara medan magnet stator dengan rotor.

Perbedaan putaran relative antara stator dan rotor disebut slip. Bertambahnya beban, akan memperbesar kopel motor, yang oleh karenanya akan memperbesar pula arus induksi pada rotor, sehingga slip antara medan putar stator dan putaran rotor pun akan bertambah besar. Jadi, apabila beban motor bertambah, putaran rotor cenderung menurun.

Kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi masuk ke dalam tulang ~ Pepatah inggeris

Kita patut berkorban supaya orang lain juga merasai kemanisan hidup.

Keruntuhan keluarga telah melahirkan generasi yang lemah ~ Rahmohan Ghandi

Rahsia untuk berjaya ialah menghormati orang lain

Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan

Kecemerlangan sebenar adalah apabila kamu dihentam sehingga bertekuk lutut, tetapi mampu melantun kembali.

Di sebalik keindahan rumah tersergam, disebalik senyum dan tawa, seseorang insan itu mungkin dilanda kepahitan dan kekecewaan yang tidak diketahui orang lain.